Wednesday, March 11, 2026
HomeEkonomi‎Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$150 per Barel Jika Konflik Timur Tengah...

‎Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$150 per Barel Jika Konflik Timur Tengah Meluas

‎MEDIAAKU.COM – Harga minyak mentah global diperkirakan dapat melonjak hingga mencapai US$150 per barel apabila konflik di Timur Tengah berkembang menjadi perang yang lebih luas dan berlangsung lama. Potensi kenaikan tajam ini terutama berkaitan dengan risiko gangguan distribusi energi di kawasan yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

‎‎Melansir CNN Indonesia, Rabu (11/3/2026) Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menjelaskan bahwa lonjakan harga tersebut dapat terjadi apabila Selat Hormuz mengalami gangguan serius. Jalur laut ini merupakan salah satu rute vital bagi pengiriman minyak dunia. Jika pasar mulai meyakini bahwa gangguan pasokan akan berlangsung lama akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, harga minyak bisa melonjak drastis.

‎‎Ia menilai secara teknis harga minyak mencapai US$150 per barel masih mungkin terjadi. Namun, situasi saat ini menunjukkan pasar belum sepenuhnya yakin bahwa lonjakan harga akan berlangsung lama.

‎‎Syafruddin mencontohkan kondisi pada 2008 ketika harga minyak sempat melonjak tinggi. Saat itu, pasar dipenuhi kekhawatiran terhadap pasokan energi, nilai dolar melemah, serta muncul persepsi bahwa distribusi minyak global berada dalam ancaman serius.

‎‎Meski harga minyak belakangan meningkat, pergerakan saham perusahaan energi belum menunjukkan kenaikan signifikan. Mengacu pada laporan Reuters, saham perusahaan minyak besar hanya mengalami kenaikan tipis. Kondisi ini menunjukkan investor masih menilai gangguan pasokan yang terjadi saat ini sebagai tekanan jangka pendek, bukan perubahan permanen dalam struktur harga minyak dunia.

‎‎Menurut Syafruddin, peluang harga mencapai US$150 per barel tetap ada, tetapi membutuhkan kondisi yang cukup ekstrem. Konflik harus semakin memburuk, distribusi energi terganggu secara nyata, dan pasar kehilangan keyakinan bahwa situasi akan segera pulih. 

Jika kondisi tersebut tidak terjadi, ia menilai harga minyak kemungkinan berada pada kisaran US$100 hingga US$120 per barel. Pada level tersebut, tekanan terhadap ekonomi global sudah cukup besar karena permintaan energi biasanya mulai melemah ketika harga terlalu tinggi.

‎‎Pandangan serupa disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. Ia menyebut harga minyak bisa menembus US$150 per barel apabila perang terus berlanjut dan Selat Hormuz benar-benar ditutup. 

Fahmy mengingatkan bahwa saat Perang Teluk antara Irak dan Iran, harga minyak dunia pernah mendekati US$140 per barel meskipun jalur tersebut tetap terbuka. Karena itu, jika Selat Hormuz sampai ditutup, potensi lonjakan harga yang lebih tinggi dinilai cukup besar.

‎Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir. Dalam wawancara dengan CBS News, ia mengatakan perkembangan situasi berlangsung lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

‎‎Meski demikian, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar energi. Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa mereka akan menentukan akhir konflik dan memperingatkan bahwa Iran tidak akan membiarkan ekspor minyak dari kawasan berlangsung jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus terjadi.

‎‎Sementara itu, upaya untuk menekan kenaikan harga juga datang dari Amerika Serikat yang tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia serta kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis guna meredam lonjakan harga energi global.(*/Stephany)

RELATED ARTICLES

Terpopular