MEDIAAKU.COM – Masa remaja merupakan periode perkembangan yang penuh perubahan, baik secara emosional, sosial, maupun psikologis. Pada fase ini, remaja mulai mencari jati diri dan berusaha memperoleh kemandirian dari orang tua.
Dalam proses tersebut, tidak jarang muncul perilaku berbohong kepada orang tua. Fenomena ini sering menimbulkan kekhawatiran, namun sebenarnya dapat dipahami dari sudut pandang perkembangan psikologi remaja.
Menurut psikolog perkembangan Laurence Steinberg dalam bukunya “Adolescence”, remaja memiliki dorongan kuat untuk mendapatkan kebebasan dan privasi.
Ketika mereka merasa aturan orang tua terlalu ketat atau khawatir akan dimarahi, sebagian remaja memilih berbohong sebagai cara untuk menghindari konflik.Kebohongan ini sering kali bukan semata-mata karena niat buruk, melainkan sebagai strategi untuk mempertahankan ruang pribadi mereka.
Pendapat serupa juga dijelaskan oleh psikolog Carl Rogers dalam bukunya “On Becoming a Person”. Rogers menekankan bahwa remaja sangat membutuhkan penerimaan dan pemahaman dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Jika remaja merasa tidak didengar atau takut dihakimi, mereka cenderung menutup diri bahkan menyembunyikan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, kebohongan menjadi mekanisme pertahanan diri.Selain faktor kebebasan dan komunikasi, pengaruh lingkungan sosial juga berperan besar.
Remaja sering menghadapi tekanan dari teman sebaya untuk mengikuti kegiatan tertentu. Ketika mereka merasa kegiatan tersebut tidak akan disetujui oleh orang tua, kebohongan bisa muncul sebagai jalan keluar yang dianggap paling mudah.
Namun demikian, kebiasaan berbohong tentu tidak boleh dianggap hal yang wajar untuk terus dilakukan. Orang tua dan remaja sama-sama memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang jujur.
Orang tua perlu menciptakan komunikasi yang terbuka, tidak hanya menekankan aturan, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya.
Pada dasarnya kejujuran merupakan fondasi dari hubungan yang sehat dalam keluarga. Remaja perlu belajar bahwa berkata jujur akan membangun kepercayaan, sementara orang tua perlu belajar untuk mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Dengan saling memahami dan menghargai, hubungan antara orang tua dan anak dapat menjadi lebih kuat, sehingga kebohongan tidak lagi menjadi pilihan dalam menghadapi masalah.(*/janu)

