MEDIAAKU.COM – Wagasa adalah payung tradisional Jepang yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan panas, tetapi juga sebagai simbol budaya dan estetika. Secara historis, wagasa bukan berasal dari Jepang, melainkan diperkenalkan dari Tiongkok dan Semenanjung Korea sekitar abad ke-6 hingga periode Heian (794–1185).
Menurut kajian dalam buku kuno Jepang “Nihon Shoki” (720 M), benda serupa payung yang disebut kinugasa telah digunakan dalam konteks keagamaan dan simbol kekuasaan. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi awal wagasa lebih bersifat simbolis daripada praktis. Pada masa itu, hanya kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan yang diperbolehkan menggunakannya sebagai penanda status sosial dan perlindungan dari roh jahat.
Seiring perkembangan zaman, wagasa mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Pada periode Muromachi hingga Azuchi-Momoyama (abad ke-14 hingga ke-16), pengrajin Jepang mulai menambahkan lapisan minyak pada kertas washi agar tahan air. Inovasi penting lainnya adalah ditemukannya mekanisme lipat, yang menjadikan wagasa lebih praktis digunakan.
Menurut Sayaka Motomura dalam artikelnya “Artisan Prestige Traced in Hand-Crafted Wagasa”, perkembangan wagasa tidak terlepas dari pengaruh seni dan budaya Jepang seperti kabuki dan upacara minum teh.Ia menyebutkan bahwa wagasa menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Jepang, baik sebagai alat sehari-hari maupun sebagai elemen estetika.
Pada periode Edo (1603–1867), wagasa mulai digunakan oleh masyarakat umum dan berkembang menjadi berbagai jenis, seperti “bangasa” dan “janomegasa”. Produksi wagasa meningkat pesat hingga mencapai jutaan unit per tahun. Namun, memasuki era Meiji, popularitasnya menurun akibat masuknya payung gaya Barat yang lebih praktis dan murah.
Saat ini, wagasa tetap dilestarikan sebagai warisan budaya. Meskipun jumlah pengrajin menurun, wagasa masih digunakan dalam seni tradisional Jepang seperti kabuki, festival, dan upacara keagamaan.
Sejarah wagasa mengajarkan bahwa sebuah benda sederhana dapat memiliki makna budaya yang mendalam. Di tengah modernisasi, menjaga warisan seperti wagasa menjadi penting agar nilai tradisi, keindahan, dan kearifan lokal tidak hilang ditelan zaman.(*/janu)

