MEDIAAKU.COM – Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) terus memperkuat pelaksanaan program ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan tidur (idle) yang dimiliki sejumlah unit kerja. Upaya tersebut dibahas dalam Focused Group Discussion (FGD) bertajuk Laporan Implementasi Program Ketahanan Pangan pada Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Melansir laman Kemenimipas, Jumat (26/6/2026) forum yang berlangsung di Aula Jusuf Adiwinata, Gedung Kemenimipas, menjadi wadah untuk mengevaluasi pelaksanaan program, mengukur dampaknya, sekaligus menyusun rekomendasi sebagai dasar pengembangan program pada masa mendatang.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Kajian tersebut menyoroti pelaksanaan program ketahanan pangan di berbagai unit pelaksana teknis Imigrasi dan Pemasyarakatan di seluruh Indonesia.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, mengapresiasi hasil penelitian yang dinilai memberikan gambaran menyeluruh mengenai pencapaian, peluang pengembangan, hingga tantangan yang masih perlu diselesaikan dalam implementasi program tersebut.
Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa program ketahanan pangan memiliki prospek besar untuk terus ditingkatkan, baik dari sisi produktivitas, pengembangan sumber daya manusia, maupun kontribusinya terhadap perekonomian daerah hingga nasional.
Agus menjelaskan, program ketahanan pangan merupakan salah satu bentuk dukungan Kemenimipas terhadap agenda prioritas nasional dan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Pelaksanaannya dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang belum produktif di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) untuk kegiatan pertanian, peternakan, serta perikanan.
Selain menghasilkan komoditas pangan, program tersebut juga menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan agar memiliki keterampilan yang bermanfaat setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Program ini juga dinilai telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi pangan. Bahkan, sejumlah unit pelaksana teknis mampu memenuhi kebutuhan internal sekaligus menyalurkan hasil panennya kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, akademisi, media, hingga masyarakat luas. Sebagai bagian dari pemerintah,Kemenimipas berkomitmen mengambil peran aktif dalam mendukung tercapainya ketahanan pangan nasional.
Melalui forum diskusi tersebut, Kemenimipas juga membuka ruang bagi berbagai masukan dari para pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat implementasi program, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, serta menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi warga binaan, masyarakat, dan pencapaian program prioritas nasional.(*/Stephany)

