MEDIAAKU.COM – Dalam tradisi penanggalan Tiongkok, shio ke-12 adalah Babi (Zhu). Urutan ini merupakan bagian dari sistem 12 hewan yang digunakan untuk menandai tahun dalam siklus kalender tradisional Tiongkok.
Babi ditempatkan sebagai hewan terakhir dalam siklus tersebut. Meskipun berada di posisi terakhir, shio Babi justru memiliki berbagai makna positif, seperti kemakmuran, ketulusan, keberuntungan, dan kehidupan yang berkecukupan.
Sejarah 12 shio berkembang dari perpaduan antara sistem penanggalan, kepercayaan masyarakat, dan kebudayaan Tiongkok kuno. Berdasarkan legenda Kaisar Giok mengadakan perlombaan menyeberangi sungai besar untuk menentukan urutan 12 hewan pengawal istana.
Babi berlari dan berenang, tetapi di tengah jalan ia merasa lapar lalu berhenti untuk makan.Tertidur Lelap, Setelah kenyang, babi merasa mengantuk dan memutuskan untuk tidur sebentar.Ketika bangun, ia melanjutkan perjalanan dengan santai dan akhirnya tiba di garis finis pada urutan paling buncit, yakni nomor 12.
Menurut kajian sinolog Wolfram Eberhard dalam buku “A Dictionary of Chinese Symbols”, babi memiliki hubungan dengan kehidupan rumah tangga, kesuburan, serta kemakmuran. Pada masyarakat agraris Tiongkok zaman dahulu, babi merupakan salah satu hewan ternak yang bernilai penting. Memeliharanya dapat menjadi tanda bahwa sebuah keluarga mempunyai persediaan makanan dan kehidupan yang relatif mapan.
Babi juga memiliki kedudukan menarik dalam kebudayaan Tiongkok. Karakternya sering dikaitkan dengan sifat sederhana, ramah, dan menikmati kehidupan. Namun, simbol tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai gambaran mutlak mengenai kepribadian seseorang.
Shio lebih tepat dipandang sebagai bagian dari warisan budaya dan sistem simbolik masyarakat Tiongkok.Sebagai shio terakhir, Babi mengingatkan kita bahwa posisi terakhir bukan berarti tidak penting. Setiap bagian dalam sebuah rangkaian memiliki fungsi dan maknanya sendiri.
Kehidupan tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan siapa yang berada di depan atau paling menonjol. Kesederhanaan, ketulusan, kerja keras, dan kemampuan menghargai apa yang dimiliki juga merupakan bentuk keberhasilan. Tradisi shio mengajarkan kita untuk menghargai keberagaman budaya sekaligus mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.(*/janu)

