MEDIAAKU.COM – Shio anjing mendapatkan urutan ke-11 dalam siklus 12 shio dalam budaya Tiongkok. Anjing menempati posisi setelah Ayam dan sebelum Babi. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, anjing bukan hanya dipandang sebagai hewan peliharaan dan penjaga rumah, tetapi juga memiliki hubungan dengan nilai kesetiaan, keberanian, kewaspadaan, serta perlindungan.
Sejarah shio berakar pada sistem penanggalan tradisional Tiongkok yang menggunakan perpaduan siklus 12 cabang bumi dengan unsur-unsur lainnya. Hewan kemudian dikaitkan dengan masing-masing cabang tersebut. Menurut legenda yang sangat populer, urutan shio ditentukan melalui perlombaan yang diselenggarakan oleh Kaisar Giok. Hewan-hewan harus menyeberangi sungai untuk sampai ke istana.
Menurut legenda anjing sangat lincah dan senang bermain air,dalam perjalanannya anjing berhenti di tengah jalan untuk membersihkan diri dan bermain. Walau santai, sifat jujurnya membuat Anjing tetap menyelesaikan lomba di posisi kesebelas.
Menurut pendapat Derek Walters dalam “The Chinese Astrology Handbook” menerangkan bahwa setiap hewan dalam siklus shio memiliki karakter simbolis yang digunakan masyarakat untuk memahami hubungan antara waktu, manusia, dan kehidupan sosial.
Anjing mendapatkan tempat istimewa dalam kebudayaan Tiongkok karena sejak zaman dahulu hewan ini membantu manusia menjaga rumah, ternak, dan lingkungan.Sifatnya yang waspada membuat anjing sering dikaitkan dengan perlindungan.
Dalam sejumlah kepercayaan tradisional, kehadiran anjing juga dianggap berkaitan dengan penjagaan dari gangguan atau hal-hal buruk.Namun, shio sebaiknya dipahami sebagai bagian dari warisan budaya, bukan sebagai penentu mutlak kepribadian atau masa depan seseorang.
Nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi bahan untuk mengenal sejarah dan cara masyarakat masa lalu memaknai kehidupan.Gambaran shio anjing mengajarkan pentingnya kesetiaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.
Seperti anjing yang dikenal menjaga dan menemani manusia, kita pun dapat menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata. Warisan budaya akan menjadi lebih bermakna apabila tidak hanya dipelajari, tetapi juga digunakan untuk menumbuhkan nilai-nilai positif dalam kehidupan.(*/janu)

