MEDIAAKU.COM – Sebuah brand fashion lokal belakangan menjadi perhatian setelah menjual pakaian dengan tulisan bernuansa seksual yang dinilai merendahkan perempuan. Kontroversi tersebut kembali memunculkan pembahasan mengenai candaan seksis dan misoginis yang masih kerap dianggap sebagai humor biasa.
Dalam dunia fashion dan pemasaran, kalimat kontroversial terkadang digunakan untuk menarik perhatian publik. Namun, strategi tersebut menjadi persoalan ketika menggunakan kata-kata yang melecehkan atau menjadikan perempuan sebagai objek seksual.
Melansir Verywell Mind, misogini menggambarkan sikap atau perilaku yang menunjukkan kebencian, penghinaan, atau prasangka terhadap perempuan. Sementara seksisme berkaitan dengan diskriminasi maupun stereotip berdasarkan gender.
Bentuknya pun tidak selalu berupa pernyataan yang secara terang-terangan membenci perempuan. Seksisme dan misogini dapat muncul lewat candaan, komentar tentang tubuh, stereotip, hingga tulisan bernuansa seksual yang dianggap sekadar lucu-lucuan.
Psikolog Dr Meutia Nauly, seperti dikutip dari detikSumut, menjelaskan bahwa humor seksis merupakan candaan yang merendahkan, menstereotipkan, atau mengobjektifikasi seseorang berdasarkan gender, khususnya perempuan. Menurutnya, perilaku tersebut dapat masuk dalam kekerasan verbal seksual dan kekerasan simbolik.
Jika terus dinormalisasi, batas antara humor dan pelecehan dapat menjadi semakin kabur. Perempuan yang merasa terganggu bahkan berisiko dianggap terlalu sensitif ketika menyampaikan keberatan.
Padahal, dampaknya tidak selalu berhenti pada rasa tersinggung. Paparan berulang terhadap candaan seksis dapat membuat perempuan merasa tidak nyaman, terhina, serta memengaruhi rasa aman dan cara mereka memandang diri sendiri. Komentar mengenai tubuh dan seksualitas juga dapat memperkuat anggapan bahwa perempuan merupakan objek yang bebas dikomentari.
Karena itu, humor tetap perlu disampaikan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Tidak semua hal yang dianggap lucu harus dinormalisasi, terutama jika menjadikan gender, tubuh, seksualitas, atau martabat seseorang sebagai bahan penghinaan.(*/Stephany)

