MEDIAAKU.COM – Kinerja ekspor minyak kelapa Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat meski dihadapkan pada tekanan pasokan global dan fluktuasi produksi. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menyebut komoditas ini masih menjadi salah satu andalan ekspor nasional dengan prospek yang tetap menjanjikan.
Melansir BeritaSatu, Minggu (31/5/2026) Berdasarkan kajian sektoral Indonesia Eximbank Institute, Indonesia menempati posisi sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia pada 2025, baik untuk minyak kelapa mentah maupun minyak kelapa olahan. Pangsa pasar Indonesia mencapai sekitar 22 persen dari total perdagangan global, berada di bawah Filipina yang menguasai hampir setengah pasar dunia, sementara Belanda menempati posisi ketiga.
Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengungkapkan bahwa nilai ekspor minyak kelapa Indonesia tetap mengalami peningkatan meskipun jumlah pengiriman ke luar negeri menurun. Sepanjang 2025, volume ekspor tercatat turun sekitar 18 persen, namun nilai ekspornya justru melonjak lebih dari 43 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan nilai ekspor tersebut didorong oleh meningkatnya harga minyak kelapa di pasar internasional akibat terbatasnya ketersediaan bahan baku. Fenomena cuaca El Nino turut memengaruhi produksi sehingga sejumlah pabrik harus mengurangi kapasitas operasionalnya.
Di tengah persaingan global yang ketat, Indonesia dinilai masih memiliki daya saing yang cukup kuat, khususnya untuk produk minyak kelapa yang telah melalui proses pemurnian. Selain itu, Indonesia juga memiliki keunggulan dari sisi jangkauan pasar. Saat ini, produk minyak kelapa Indonesia telah dipasarkan ke lebih dari 90 negara dengan tujuan utama antara lain Belanda, China, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat.
Permintaan global terhadap minyak kelapa murni yang terus meningkat membuka peluang ekspansi ke pasar baru, terutama di kawasan Eropa dan negara-negara nontradisional. Tren gaya hidup sehat serta meningkatnya penggunaan bahan alami dalam industri pangan, kosmetik, dan kesehatan menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan permintaan tersebut.
Untuk 2026, Indonesia Eximbank Institute memperkirakan nilai ekspor minyak kelapa akan tumbuh secara moderat sekitar 9 persen. Namun, pertumbuhan tersebut diperkirakan tidak setinggi tahun sebelumnya karena adanya pemulihan produksi dari negara pesaing seperti Filipina dan penyesuaian harga kelapa ke tingkat yang lebih normal.
Meski prospeknya masih positif, industri minyak kelapa nasional tetap menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu persoalan utama yang dipengaruhi oleh banyaknya pohon kelapa yang sudah tua, rendahnya produktivitas perkebunan rakyat, kondisi cuaca yang tidak menentu, serta meningkatnya ekspor kelapa bulat.
Menurut Rini, upaya peremajaan kebun kelapa dan penguatan sektor hilirisasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri. Pemerintah diketahui telah melakukan peremajaan sekitar 44,9 ribu hektare kebun kelapa pada 2024 dan berencana memperluas program tersebut pada periode 2026-2027.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjamin ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang sekaligus memperkuat posisi minyak kelapa sebagai komoditas ekspor unggulan yang mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekspor nasional di masa mendatang.(*/Stephany)

