MEDIAAKU.COM – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus memperluas kerja sama internasional guna memperkuat pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai langkah mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global.
Melansir laman KemenkoPMK, Senin (3/8/2026) Komitmen tersebut ditegaskan dalam partisipasi Indonesia pada The 2026 Manufacturing and Vocational Education Exchange Forum (MVEF 2026) yang berlangsung di Hangzhou, Tiongkok. Forum ini mengangkat tema pengembangan klaster kolaboratif untuk mencetak tenaga kerja berkeahlian tinggi di sektor industri manufaktur.
Dalam kesempatan itu, Staf Ahli Bidang Sumber Daya Berkualitas Kemenko PMK, Katiman, menyampaikan bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, dan smart manufacturing menuntut sistem pendidikan vokasi yang lebih selaras dengan kebutuhan industri. Menurutnya, pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi dan siap memasuki dunia kerja global.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini terus menjalankan transformasi pendidikan vokasi melalui Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Kebijakan tersebut mengubah pendekatan pengembangan pendidikan dari yang berorientasi pada penyediaan lulusan menjadi berbasis kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelarasan kurikulum, pembelajaran berbasis praktik kerja, penguatan program magang, serta penyusunan standar kompetensi yang mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.
Dalam forum tersebut, Indonesia dan Tiongkok juga meluncurkan International Cluster Vocational Education Program (ICVEEP) Phase II sebagai kelanjutan kerja sama strategis di bidang pendidikan vokasi. Program ini akan berfokus pada penyelarasan standar kompetensi internasional di sektor manufaktur, pengembangan kurikulum bersama, serta pengakuan kredit akademik dan sertifikasi profesi untuk mendukung program gelar ganda dan mobilitas tenaga kerja terampil antarnegara.
Selain itu, Indonesia mengusulkan penguatan kerja sama jangka panjang melalui pembangunan pusat pelatihan bersama, pengembangan smart workshop dan laboratorium kolaboratif di politeknik, perluasan sertifikasi internasional, pertukaran dosen dan pelatih, hingga pembukaan jalur karier global bagi lulusan vokasi.
Kemenko PMK menegaskan akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan mitra internasional agar tata kelola pendidikan vokasi semakin kuat. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM Indonesia sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Forum MVEF 2026 dihadiri oleh perwakilan pemerintah, lembaga pendidikan vokasi, perguruan tinggi, institusi riset, serta pelaku industri dari berbagai negara. Kehadiran Indonesia menjadi bukti komitmen dalam memperluas kolaborasi internasional untuk memperkuat daya saing tenaga kerja nasional di masa depan.(*/Stephany)

