MEDIAAKU.COM – Kebiasaan anak sering menggigit kuku (onychophagia) merupakan perilaku yang cukup umum terjadi pada masa pertumbuhan. Menurut Sigmund Freud, kebiasaan seperti ini bisa berkaitan dengan fase perkembangan oral, di mana anak mencari kenyamanan melalui aktivitas mulut. Sementara itu, psikolog modern seperti Jerome Kagan berpendapat bahwa kebiasaan ini lebih sering muncul akibat kecemasan, kebosanan, atau kebutuhan untuk menenangkan diri.
Dalam buku “The Whole-Brain Child” karya Daniel J. Siegel, dijelaskan bahwa perilaku berulang pada anak sering kali merupakan cara otak mereka mencoba mengatur emosi yang belum stabil.Anak belum sepenuhnya mampu mengekspresikan perasaan seperti stres, takut, atau cemas dengan kata-kata, sehingga muncul dalam bentuk kebiasaan fisik, termasuk menggigit kuku.
Kebiasaan ini sebenarnya tidak selalu berbahaya jika terjadi sesekali. Namun, jika dilakukan terus-menerus, dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti infeksi di sekitar kuku, kerusakan jaringan kulit, bahkan gangguan pertumbuhan kuku. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan perhatian lebih terhadap kondisi emosionalnya.
Orang tua memiliki peran penting dalam mengatasi kebiasaan ini. Pendekatan yang lembut dan penuh pengertian jauh lebih efektif dibandingkan dengan hukuman atau teguran keras.Mengajak anak berbicara, memahami apa yang mereka rasakan, serta memberikan alternatif kegiatan seperti bermain atau menggambar dapat membantu mengalihkan kebiasaan tersebut.
Ketika anak merasa aman dan dipahami, mereka cenderung lebih mudah meninggalkan kebiasaan negatif.Setiap perilaku anak memiliki makna di baliknya. Alih-alih langsung menghakimi, kita perlu belajar memahami dan mendampingi mereka dengan kasih sayang. Karena pada akhirnya, perhatian dan cinta adalah kunci utama dalam membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, baik secara fisik maupun emosional.(*/janu)

