MEDIAAKU.COM – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah beras yang dipasarkan sebagai produk fortifikasi. Dari sampel yang diuji, sekitar 90 persen disebut mengalami ketidaksesuaian.
Amran mengatakan temuan tersebut masih didalami pemerintah. Namun, kondisi ini menjadi perhatian karena beras yang diklaim mengandung tambahan vitamin atau zat gizi seharusnya memenuhi standar fortifikasi yang telah ditetapkan.
Melansir laman Kementan, Selasa (8/9/2026) Tak hanya kandungan produk, pemerintah juga menyoroti perbedaan harga yang cukup tinggi dengan beras biasa. Menurut Amran, selisih harga yang besar berpotensi membebani konsumen dan turut memberikan tekanan terhadap harga pangan.
Sementara itu, Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI) menilai fortifikasi beras penting untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro masyarakat. Beras dinilai strategis karena menjadi salah satu pangan pokok yang dikonsumsi secara luas.
Direktur KFI Nina Sardjunani mengatakan fortifikasi dapat membantu mencegah dampak kekurangan zat gizi mikro, seperti anemia, menurunnya daya tahan tubuh, hingga terganggunya produktivitas.
KFI memperkirakan biaya tambahan untuk proses fortifikasi sekitar Rp1.000 per kilogram. Karena itu, pengawasan dinilai penting agar konsumen mendapatkan manfaat sesuai klaim tanpa harus membayar harga yang tidak wajar.
Pemerintah pun akan melanjutkan pemeriksaan untuk memastikan produk beras fortifikasi yang beredar memenuhi ketentuan, baik dari sisi kandungan maupun informasi yang diberikan kepada masyarakat.(*/Stephany)

