MEDIAAKU.COM – Kementerian Kehutanan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026.
Melansir laman Kemenhut, Kamis (25/6/2026) Sebanyak lebih dari 500 personel gabungan disiapkan untuk mengantisipasi potensi kebakaran yang diperkirakan meningkat pada Juli hingga September mendatang.
Kesiapan tersebut ditandai dengan Apel Kesiapsiagaan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026 yang digelar di Bumi Perkemahan Indra Prastha, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Perum Perhutani, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), kelompok perhutanan sosial, akademisi, hingga masyarakat sekitar kawasan hutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Heru Djatmika, yang memimpin apel tersebut mengatakan bahwa langkah antisipasi harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi. Menurutnya, seluruh pihak perlu memperkuat koordinasi dan kesiapan di lapangan, terutama di wilayah yang rawan mengalami karhutla.
“Jawa Tengah harus siap sebelum api muncul. Apel ini menjadi tanda bahwa seluruh unsur sudah harus bergerak. Yang kita bangun bukan hanya barisan apel, tetapi kesiapan kerja di lapangan,” ujar Heru.
Peningkatan kewaspadaan dilakukan karena BMKG memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Selain itu, pengalaman pada 2023 menunjukkan dampak serius fenomena El Nino yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah mencapai sekitar 9.965 hektare.
Dalam kegiatan tersebut, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) bersama Manggala Agni dan MPA menampilkan simulasi pemadaman karhutla. Simulasi itu memperlihatkan kesiapan personel, penggunaan peralatan, koordinasi tim, serta langkah cepat yang harus dilakukan saat ditemukan indikasi kebakaran.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, Thomas Nifinluri, menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada upaya pencegahan dan deteksi dini.
“Kunci pengendalian karhutla ada pada pencegahan dini. Api kecil harus cepat diketahui, cepat dilaporkan, dan cepat ditangani sebelum menjadi kebakaran besar,” kata Thomas.
Ia menjelaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya merusak kawasan hutan dan vegetasi, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan kualitas udara, mengancam ketersediaan sumber air, merusak ekosistem, serta menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi.
Inspektur Wilayah I Kementerian Kehutanan, Sultrarini Rahayu, menambahkan bahwa pengendalian karhutla harus dilakukan secara kolaboratif. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, hingga masyarakat sekitar hutan, menjadi faktor penting dalam mencegah dan menangani kebakaran.
Sementara itu, Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, memastikan berbagai langkah pencegahan terus diperkuat melalui patroli rutin, pemantauan titik panas, pembinaan MPA, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.
Kementerian Kehutanan juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah di sekitar kawasan hutan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran.
Dengan kesiapan personel, peralatan, sistem informasi yang cepat, serta dukungan masyarakat, diharapkan risiko karhutla di Jawa Tengah selama musim kemarau 2026 dapat ditekan sehingga hutan, lingkungan, dan keselamatan warga tetap terjaga.(*/Stephany)

