Monday, June 8, 2026
HomeEkonomiIndonesia Dorong Kerja Sama Global untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Dunia

Indonesia Dorong Kerja Sama Global untuk Perkuat Ketahanan Ekonomi Dunia

MEDIAAKU.COM – Perubahan geopolitik yang terjadi di berbagai kawasan dunia saat ini semakin memengaruhi stabilitas ekonomi global. Gangguan terhadap rantai pasok, perdagangan, investasi, hingga ketahanan ekonomi berbagai negara menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, dibutuhkan sistem kerja sama internasional yang lebih kuat, terbuka, dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Melansir laman KemenkoPerekonomian, Senin (8/6/2026) Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat menjadi pembicara dalam Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 yang berlangsung di Brussel, Belgia. Dalam forum tersebut, Airlangga menekankan bahwa perubahan arsitektur ekonomi global perlu direspons melalui penguatan kemitraan dan diversifikasi, bukan dengan pemisahan ekonomi antarnegara atau fragmentasi pasar dunia.

Menurut Airlangga, tantangan ekonomi saat ini menuntut terciptanya kerangka kerja baru yang tetap mempertahankan manfaat keterbukaan ekonomi sekaligus meningkatkan daya tahan terhadap berbagai risiko global. Ia menilai kerja sama dan kolaborasi internasional merupakan kunci utama untuk mencapai tujuan tersebut.

BESF sendiri merupakan forum tahunan yang mempertemukan para pemimpin Uni Eropa, pemerintah negara mitra, kalangan bisnis, hingga media internasional untuk membahas isu-isu strategis terkait keamanan ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi, dan ketahanan rantai pasok global.

Dalam diskusi tersebut, Airlangga menjelaskan bahwa konflik geopolitik yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, menunjukkan bagaimana ketegangan politik dapat berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dunia.

Gangguan tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik, mengurangi investasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Kondisi itu mendorong banyak negara menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat keamanan ekonomi nasional, seperti pengawasan investasi dan pengendalian ekspor.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan global, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas ekonominya. Pada triwulan pertama tahun 2026, perekonomian nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Selain itu, inflasi tetap terkendali, cadangan devisa berada pada level yang kuat, dan neraca perdagangan terus mencatat surplus selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.

Pemerintah juga terus mempercepat transformasi ekonomi melalui pengembangan industri hilir, peningkatan sektor manufaktur, digitalisasi ekonomi, serta penguatan ekonomi hijau. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.

Indonesia saat ini telah berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia. Berbagai investasi dari negara-negara di Asia, Eropa, dan Amerika Utara masuk ke sektor produksi baterai, bahan baku kendaraan listrik, hingga perakitan kendaraan.

Perkembangan ini tidak hanya mendukung pertumbuhan industri nasional, tetapi juga membantu memperkuat rantai pasok energi bersih global. Selain sektor industri, transformasi digital juga menjadi fokus utama pemerintah. Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai gross merchandise value (GMV) yang diperkirakan melampaui USD130 miliar.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan sumber energi terbarukan dan penerapan program biodiesel B50. Program tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga sekitar 4 juta kiloliter setiap tahun sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas jaringan kerja sama ekonomi melalui berbagai perjanjian perdagangan strategis. Beberapa di antaranya adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), serta proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS, serta kandidat anggota OECD, Indonesia berupaya memainkan peran sebagai penghubung antara negara maju dan negara berkembang. Peran tersebut dinilai penting untuk memperkuat dialog internasional, memperluas kerja sama, dan mendorong lahirnya solusi yang inklusif terhadap berbagai tantangan ekonomi global.

Menutup rangkaian forum, Airlangga kembali mengajak seluruh negara untuk memperkuat kolaborasi internasional guna membangun sistem keamanan ekonomi yang lebih tangguh. Menurutnya, ketahanan ekonomi dan keterbukaan harus berjalan beriringan agar pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif dapat dinikmati oleh semua negara.(*/Stephany)

RELATED ARTICLES

Terpopular