MEDIAAKU.COM – Bagi sebagian orang, kepiting dan rajungan terlihat hampir sama. Keduanya memiliki capit, cangkang keras, dan hidup di wilayah perairan. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, kedua hewan laut tersebut memiliki sejumlah perbedaan yang menarik, mulai dari bentuk tubuh, habitat, warna, hingga kemampuan bergerak.
Dalam dunia ilmiah, istilah “kepiting” sebenarnya mencakup banyak kelompok. Salah satu yang umum dikonsumsi di Indonesia adalah kepiting bakau dari genus Scylla. Sementara itu, rajungan yang banyak dikenal masyarakat adalah Portunus pelagicus. Keduanya termasuk famili Portunidae, sehingga memiliki beberapa kemiripan bentuk tubuh.
Buku Identifikasi Kepiting dan Rajungan di Indonesia yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan bahwa bentuk keduanya memang serupa, tetapi habitatnya berbeda.
Perbedaan pertama dapat dilihat dari bentuk tubuh. Kepiting bakau cenderung memiliki tubuh lebih kokoh dengan capit besar dan kuat. Rajungan umumnya mempunyai tubuh lebih ramping, capit yang relatif panjang, serta bagian kaki terakhir berbentuk seperti dayung.
Bentuk kaki tersebut merupakan adaptasi yang membuat rajungan mampu berenang dengan baik. Peneliti perikanan Bambang Sumiono dan rekan-rekannya menyebut rajungan sebagai swimming crab atau kepiting perenang karena kemampuannya bergerak di dalam air.
Perbedaan berikutnya adalah tempat hidup. Kepiting bakau banyak ditemukan di kawasan mangrove, perairan payau, dan daerah berlumpur. FAO mencatat bahwa Scylla serrata merupakan kepiting bakau yang mampu beradaptasi pada rentang kadar garam yang cukup luas. Sebaliknya, rajungan lebih banyak hidup di laut dengan salinitas tinggi, terutama pada dasar perairan berpasir atau berlumpur.
Dari segi warna, rajungan jantan biasanya memiliki warna biru yang lebih mencolok dengan pola putih, sedangkan kepiting bakau cenderung berwarna hijau kecokelatan. Namun, warna dapat bervariasi sehingga bentuk kaki dan capit lebih tepat digunakan sebagai petunjuk tambahan.Jadi, meskipun sama-sama memiliki cangkang dan capit, kepiting dan rajungan bukanlah hewan yang sama.
Mengenali perbedaan keduanya bukan hanya menambah wawasan tentang kehidupan laut, tetapi juga membuat kita semakin memahami betapa beragamnya makhluk yang hidup di perairan Indonesia. Dengan mengenal dan menjaga habitatnya, kita turut membantu mempertahankan kekayaan laut untuk generasi mendatang.(*/janu)

