MEDIAAKU.COM – Kue osmanthus merupakan salah satu kudapan tradisional yang telah dikenal di Tiongkok selama berabad-abad. Kue ini dibuat dengan memanfaatkan bunga osmanthus (Osmanthus fragrans), bunga kecil berwarna kuning keemasan yang terkenal karena aromanya yang lembut dan manis.
Kue ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat, terutama saat musim gugur ketika bunga osmanthus bermekaran.Sejarah kue osmanthus diperkirakan bermula pada masa dinasti Song dan Ming pada masa dinasti Tang (618–907 M), ketika bunga osmanthus mulai banyak dimanfaatkan sebagai bahan kuliner, minuman, dan obat tradisional.
Popularitasnya semakin meningkat pada masa Dinasti Song karena para bangsawan dan kalangan istana menggemari makanan dengan aroma bunga yang elegan. Kue ini kemudian menjadi sajian istimewa dalam berbagai perayaan keluarga dan festival.
Bahan utama kue osmanthus biasanya terdiri atas tepung beras, gula batu, madu, serta bunga osmanthus yang telah dikeringkan atau diolah menjadi sirup. Teksturnya lembut dengan rasa manis yang ringan sehingga banyak disukai oleh berbagai kalangan. Hingga kini, variasi modern kue osmanthus juga dipadukan dengan agar-agar, kacang-kacangan, atau buah-buahan tanpa menghilangkan cita rasa tradisionalnya.
Ahli sejarah kuliner Tiongkok, Fuchsia Dunlop, dalam bukunya “Land of Fish and Rice” menjelaskan bahwa penggunaan bunga sebagai bahan makanan mencerminkan penghargaan masyarakat Tiongkok terhadap keseimbangan antara rasa, aroma, dan keindahan. Menurutnya, bunga osmanthus menjadi salah satu bahan yang mampu memberikan pengalaman kuliner yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi.
Banyak makanan tradisional Tiongkok berkembang dari perpaduan antara kebiasaan lokal, musim panen, dan filosofi hidup masyarakat. Kue osmanthus menjadi contoh bagaimana bahan alami yang sederhana dapat diolah menjadi hidangan yang sarat makna, terutama sebagai simbol keberuntungan, keharmonisan, dan kemakmuran.
Kini, kue osmanthus tidak hanya ditemukan di Tiongkok, tetapi juga mulai dikenal di berbagai negara sebagai salah satu makanan tradisional yang unik. Keharumannya yang khas membuat kue ini tetap bertahan di tengah berkembangnya aneka makanan modern. Bahkan, banyak wisatawan menjadikannya sebagai oleh-oleh khas ketika berkunjung ke daerah seperti Guilin, Hangzhou, dan Suzhou.
Sejarah kue osmanthus mengajarkan bahwa makanan tradisional bukan sekadar pengganjal rasa lapar, melainkan juga warisan budaya yang menyimpan kisah, nilai, dan identitas suatu bangsa. Dengan mengenal serta menghargai kuliner tradisional, kita turut menjaga kekayaan budaya dunia agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.(*/janu)

