Friday, March 27, 2026
HomeKesehatan‎Mengenal Somatic Therapy: Terapi yang Mengajak Tubuh Ikut “Bicara”

‎Mengenal Somatic Therapy: Terapi yang Mengajak Tubuh Ikut “Bicara”

MEDIAAKU.COM – Selama ini, banyak orang mengira bahwa proses penyembuhan emosional cukup dilakukan dengan berbicara atau berpikir positif. Padahal, pengalaman hidup, terutama yang menyakitkan tidak hanya tersimpan di pikiran, tetapi juga di tubuh. Inilah yang menjadi dasar dari somatic therapy, sebuah pendekatan terapi yang menghubungkan pikiran dan sensasi fisik sebagai satu kesatuan.

‎Melansir American Psycological Association,  therapy membantu seseorang memahami apa yang dirasakan tubuhnya, lalu menggunakannya sebagai pintu masuk untuk memproses emosi yang terpendam. Dengan kata lain, tubuh tidak lagi dianggap sekadar “wadah”, tetapi juga bagian penting dalam proses penyembuhan.

‎Dalam kondisi tertentu, seperti stres berat atau Trauma psikologis, tubuh bisa memberikan sinyal berupa ketegangan, nyeri, atau rasa tidak nyaman tanpa sebab medis yang jelas. Somatic therapy bekerja dengan cara membantu seseorang menyadari sensasi tersebut, lalu menghubungkannya dengan pengalaman emosional yang mungkin belum terselesaikan.

‎Pendekatan ini berbeda dari terapi konvensional karena tidak hanya fokus pada cerita atau pikiran, tetapi juga pada bagaimana tubuh bereaksi.Metode ini biasanya melibatkan berbagai teknik sederhana namun efektif, seperti:

‎Latihan pernapasan untuk menenangkan sistem saraf, Gerakan tubuh ringan atau peregangan, Body scanning yang memperhatikan sensasi tubuh dari kepala hingga kaki, Grounding, atau teknik untuk kembali fokus pada kondisi saat ini dan Relaksasi otot untuk mengurangi ketegangan

‎Teknik-teknik ini membantu tubuh “melepaskan” emosi yang selama ini terpendam. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, banyak orang cenderung mengabaikan sinyal tubuh. Somatic therapy hadir sebagai pengingat bahwa tubuh dan pikiran saling terhubung.

‎Ketika keduanya diperhatikan secara seimbang, proses pemulihan bisa menjadi lebih efektif. Pendekatan ini juga dianggap lebih “ramah” bagi orang yang kesulitan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, karena fokusnya tidak hanya pada percakapan.(*/Stephany)

RELATED ARTICLES

Terpopular