MEDIAAKU.COM – Pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan mempercepat diversifikasi sumber pasokan serta pembangunan infrastruktur strategis di sektor minyak dan gas bumi. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya potensi gangguan pasokan energi di tingkat global.
Melansir laman KemenESDM, Selasa (21/4/2026) Salah satu upaya konkret yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan Rusia. Negara tersebut menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi dalam pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan (storage) di Indonesia. Proyek ini diharapkan mampu memperkuat cadangan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa rencana tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Prabowo Subianto dan Vladimir Putin. Ia menyebut pemerintah telah diminta untuk menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut, termasuk melalui komunikasi dengan pihak energi Rusia yang telah menyatakan kesiapan memberikan dukungan.
Saat ini, kebutuhan BBM dalam negeri mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari atau setara 39–40 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, produksi minyak domestik masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Selisih tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Untuk menekan ketergantungan impor, pemerintah mengandalkan peningkatan kapasitas kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Selain itu, kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang direncanakan mulai berlaku pada Juli 2026 juga menjadi strategi penting dalam mengurangi konsumsi BBM berbasis fosil.
Menurut Bahlil, tambahan kapasitas dari RDMP Balikpapan diperkirakan mampu meningkatkan produksi dalam negeri secara signifikan. Dengan peningkatan tersebut, porsi impor BBM dapat ditekan hingga sekitar separuh dari kebutuhan nasional.
Terkait investasi Rusia, pemerintah masih menyusun skema kerja sama yang akan digunakan. Opsi yang dipertimbangkan meliputi mekanisme antarpemerintah (G2G) maupun kerja sama langsung antarperusahaan (B2B). Finalisasi rencana ini masih memerlukan beberapa tahap pembahasan lanjutan sebelum diumumkan secara resmi.
Bahlil juga menegaskan bahwa proyek yang tengah dijajaki ini berbeda dari pengembangan Kilang Tuban yang melibatkan PT Pertamina dan Rosneft Oil Company. Dari sisi skala, proyek baru tersebut disebut tidak sebesar Kilang Tuban.
Pembangunan kilang dan fasilitas penyimpanan dinilai sangat penting untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional. Selain itu, infrastruktur ini juga akan memberikan fleksibilitas lebih dalam pengelolaan pasokan serta membantu meredam dampak fluktuasi harga dan pasokan energi global terhadap kondisi domestik.(*/Stephany)

