MEDIAAKU.COM – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menekankan pentingnya perlindungan hak dan keselamatan anak seiring semakin pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Melansir laman Komdigi, Kamis (24/9/2026) Hal tersebut disampaikan Meutya saat menghadiri forum tingkat tinggi bertajuk Protecting Children’s Rights Facing Artificial Intelligence yang digelar di sela Sidang Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemimpin negara, perwakilan PBB, organisasi masyarakat sipil, perusahaan teknologi, akademisi, hingga pakar perlindungan anak. Pembahasan berfokus pada upaya memastikan perkembangan AI tetap memperhatikan keselamatan serta hak anak.
Meutya menyebut isu tersebut sangat relevan bagi Indonesia. Sekitar 70 juta anak di Tanah Air diperkirakan akan tumbuh dalam lingkungan digital yang semakin banyak dipengaruhi teknologi AI.
Menurutnya, AI dapat memberikan manfaat bagi anak, terutama dalam mendukung proses belajar, kreativitas, dan akses terhadap pengetahuan. Namun, teknologi tersebut juga menghadirkan risiko yang membutuhkan tanggung jawab bersama.
“Keselamatan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada algoritma. Pemerintah, perusahaan teknologi, orang tua, sekolah, dan komunitas internasional memiliki peran masing-masing,” ujar Meutya.
Indonesia dalam forum tersebut menjadi bagian dari Global Coalition for Children’s Rights and Protection in the Age of AI. Koalisi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari negara, badan PBB, organisasi masyarakat sipil, perusahaan teknologi hingga akademisi dan pakar keselamatan anak.
Koalisi tersebut turut meluncurkan roadmap 2026-2027 yang mencakup penguatan privasi dan keselamatan sejak tahap awal pengembangan teknologi, peningkatan akuntabilitas, standar pengujian, literasi AI, serta upaya menangani penyalahgunaan AI untuk membuat materi kekerasan seksual terhadap anak dan deepfake.
Meutya menilai kolaborasi internasional diperlukan karena perkembangan AI tidak mengenal batas negara. Ia menegaskan bahwa kepentingan anak perlu menjadi bagian penting dalam penyusunan tata kelola AI global.
“Dunia sedang menentukan aturan main AI. Indonesia ingin memastikan suara anak-anak ikut diperhitungkan dalam proses itu,” kata Meutya.(*/Stephany)

