MEDIAAKU.COM – Sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) memegang peranan vital dalam mewujudkan kemandirian energi nasional, yang menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Prabowo Subianto. Peran strategis ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi sekaligus ketahanan negara.
Melansir laman KemenESDM, Jumat (1/5/2026) Hal tersebut disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam forum Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Bogor. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa di tengah kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian dan berdampak pada distribusi energi dunia, Indonesia justru menunjukkan performa yang mengesankan.
Berdasarkan laporan Eye on the Market yang dirilis oleh JP Morgan Asset Management, Indonesia dinilai sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia. Penilaian ini dilakukan terhadap 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sebagian besar konsumsi energi global. Indonesia berada tepat di bawah Afrika Selatan dan mengungguli Tiongkok.
Posisi tersebut tidak lepas dari kekuatan sumber daya energi domestik Indonesia. Produksi minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar menjadi salah satu penopang utama. Selain itu, cadangan batu bara yang melimpah masih mampu memenuhi kebutuhan nasional. Potensi energi baru dan terbarukan yang tersebar luas di berbagai wilayah juga menjadi modal besar untuk memperkuat kemandirian energi ke depan.
Dari sisi produksi migas, capaian lifting minyak pada tahun 2025 berhasil memenuhi target APBN sebesar 605 ribu barel per hari. Pemerintah bahkan menaikkan target tersebut menjadi 610 ribu barel per hari pada tahun berikutnya. Untuk mencapai target ini, berbagai langkah ditempuh, mulai dari pemanfaatan teknologi peningkatan produksi, pengaktifan kembali sumur yang tidak beroperasi, hingga eksplorasi wilayah baru, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Salah satu hasil eksplorasi terbaru menunjukkan potensi besar di sumur Geliga-1 yang berada di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Wilayah kerja ini dioperasikan oleh ENI dan Sinopec. Dari hasil eksplorasi tersebut ditemukan cadangan gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Produksi dari temuan ini diproyeksikan mulai berjalan pada periode 2028–2029.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga berupaya menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Salah satu strategi yang ditempuh adalah pengembangan biodiesel hingga campuran 50 persen (B50), yang ditargetkan mulai diterapkan secara nasional pada pertengahan 2026. Kebijakan ini diperkirakan mampu mengurangi bahkan menghentikan impor solar, yang selama ini masih menjadi beban.
Upaya serupa juga dilakukan untuk mengurangi impor LPG. Pemerintah tengah mengkaji alternatif energi seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). Penggunaan CNG sendiri sudah mulai diterapkan di berbagai sektor, termasuk industri perhotelan, restoran, serta Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), dengan sumber bahan baku yang berasal dari dalam negeri.
Secara keseluruhan, berbagai langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan memaksimalkan potensi sumber daya yang dimiliki serta mengurangi ketergantungan impor, Indonesia semakin mendekati target swasembada energi yang berkelanjutan.(*/Stephany)

